Tentang Senja yang Merubah Rotasinya


Senja.

Satu kata sederhana yang tengah membawaku terombang-ambing di perahu kebingungan dan tergoncang oleh ganasnya laut kegelisahan.

"Jadi," Sore ini Ibu bertanya di teras rumah, tempatku melamun seraya menatap mentari yang mulai terbenam di ufuk barat. "Sudah menentukan pilihan?"

Aku menoleh dan serta merta menghela napas panjang. "Aku... bingung, Bu."

"Tak apa." tepat seperti tebakanku, Ibu selalu berusaha memahami situasiku. "Ibu mengerti perasaanmu. Masih ada waktu seminggu untuk memutuskan. Segeralah masuk. di sini dingin brrr." Ibu bergaya seakan kami berada di kutub utara menyababkan aku tertawa pelan.

"Aku masih ingin di sini, Ibu."

"Keras kepala. seperti biasa." Ibu bangkit sebelum menyampirkan sehelai selimut di bahu. Diam-diam aku tersenyum kecil lalu kembali menyelami kesunyian seraya mengagumi keindahan senja di kaki langit.

Entah sudah berapa ribu kali dalam hidupku yang dihabiskan hanya untuk menatap momen matahari terbenam itu dan entah sudah berapa ratus kali pula aku tetap terpesona. Selalu indah dan mengagumkan.

Mataku yang tadinya berbinar senang tiba-tiba berubah menyendu. Otakku memutar kilasan memori satu bulan yang lalu. Waktu itu aku diajak Ayah untuk menonton senja di taman komplek. Danau luas di sana memantulkan cahaya kekuningan yang megah. Biasanya taman tidak pernah sepi tapi mungkin karena hari itu hujan besar mengguyur beberapa jam sebelumnya, menyebabkan orang-orang memilih meringkuk di bawah selimut masing-masing. Hal itu membuatku merasa berada di taman pribadi.

Beberapa menit lamanya aku tertegun melihat keindahan itu, melupakan fakta bahwa aku kemari bersama Ayah yang katanya ingin membicarakan 'hal serius' denganku. Buru-buru aku berbalik dan duduk di samping Ayah yang kini malah sibuk menatap kosong air danau.

"Ayah, ada apa?" Aku bertanya hati-hati, takut mengganggu entah hal apa yang tengah dipikirkannya.

Aku mendengar hela napas lelah Ayah sebelum memposisikan diri menghadap padaku. "Kamu tahu kenapa senja terlihat indah?"

Aku perlu beberapa detik untuk mencerna pertanyaan itu sebelum menggeleng pelan. Bukan karena aku tidak tahu tapi aku yakin pertanyaan Ayah adalah jenis pertanyaan retoris.

"Senja itu sewaktu matahari pamit pada bagian bumi yang disinarinya." Ayah tersenyum hangat. "Senja yang kamu bilang indah itu adalah waktu dimana bumi bersedih karena kehilangan cahaya."

Aku mengerjap pelan sebelum kembali menoleh pada warna jingga yang masih bersinar. "Ayah gak pernah bilang gitu selama ini. Ayah selalu bilang kalau senja itu penghubung antara siang dan malam. senja itu pengantar pada dunia selanjutnya. itu yang selalu aku pegang teguh sampai jadi sesuka itu sama senja."

"Kamu sudah 17 tahun dan Ayah yakin kamu sudah bisa menerima cerita menyedihkan dibaliknya. Di dunia ini, tidak ada yang hitam ataupun putih, Binar."

Binar. sejak kapan Ayah memanggilku dengan sebutan Binar? Biasanya Ayah memanggil nama pendekku, Nana. apakah ini tandanya aku sedang berada di 'obrolan serius' yang Ayah katakan?

"Ada banyak sisi yang harus kamu pahami sebelum menarik satu kesimpulan yang akan menentukan hidupmu."

Selain karena aku tidak mengerti kemana obrolan ini tertuju, aku juga takut menebak. Sebab dilihat dari wajah Ayah yang menatap danau dengan hampa, aku yakin sesuatu yang buruk berniat menghampiri.

"Seperti sekarang." Ayah menatap pada senja yang sudah mulai menghilang membuatku ikut menoleh. "Lihat, dia sedang pamit dari sini. Dia akan pergi sebentar lagi."

"Tapi senja akan datang lagi besok, Ayah. Jangan berkata seakan besok adalah kiamat." Aku mendengus jengkel. Kenapa Ayah seakan sedang menakut-nakutiku sekarang? Padahal dari dulu, tiap kali menonton senja bersama, kami akan tertawa dengan lelucon yang dilontarkan Ayah.

"Iya, Binar. senja akan datang lagi besok tapi tidak dengan situasi yang kita hadapi. Senja akan tetap berotasi tapi kita akan berubah dari rotasi yang saat ini kita jalani." Ayah menatap mataku dalam lalu mengenggam kedua tanganku lembut. "Maaf, Binar. Maaf karena Ayah harus menjadi seseorang yang mengubah rotasi itu."

"Ayah," Aku mengernyit dalam. "Maksud Ayah apa?"

"Mulai besok," Ayah mendongak, melihat pada langit diatas yang sudah menghitam. "Tolong pikirkan baik-baik dimana kamu akan tinggal. bersama Ayah atau Ibumu."

"Apa?" Aku bertanya pelan, meyakinkan diri bahwa apa yang aku dengar hanyalah lelucon baru yang Ayah buat. "Ayah, untuk yang satu ini, aku sama sekali tidak menyukai lelucon Ayah. Buatlah lelucon seperti biasa. Tentang satpam yang karena kesiangan jadi hanya memakai celana kolor ke perusahaan. Tentang klien Ayah yang salah menyapa orang waktu meeting di restoran. Tentang... tentang..."

Aku kehabisan kata-kata. Napasku berubah pendek-pendek. Kedua tanganku sibuk mengipasi wajah dengan upaya agar air mata ini tidak mengalir.

"Ini... apa ini...?"

Tidak. Aku tidak bertanya karena aku tidak paham. Sungguh, aku sangat paham. Aku hanya berharap bahwa memang indra pendengaranku yang salah menangkap maksud Ayah.

"Kami berpisah, Binar. Ayah dan Ibumu memutuskan bercerai."

Satu kalimat terakhir berhasil membuat air mata yang sudah kutahan kuat-kuat, mengalir deras. Dilengkapi dengan isakan yang membuat dadaku nyeri.

Kenapa aku harus memilih?

Suara burung yang berseliweran di langit menjadi akhir dari segala lamunan tentang minggu lalu.

Tentang keputusan Ayah dan Ibu. Tentang bagaimana semenjak hari itu, aku memandang senja dengan cerita berbeda.

Seminggu lagi aku harus memilih, pihak mana yang harus aku ikuti dan sisi mana yang perlu aku tuju. Aku bangkit lalu berjalan ke arah gerbang rumah yang hanya setinggi pinggangku. Dengan penuh rasa ngilu di dada, aku membenarkan letak papan iklan berisikan nomor telepon yang menggantung di sana.

Iya, rumah ini terpaksa dijual. Rumah ini terpaksa harus dihilangkan dari jejak-jejak memori masa kecilku.

Mataku kembali berlabuh pada senja. Tetap saja mempesona. Tapi Ayah memang benar satu hal. Bahwa setelah hari itu, bukan hanya rotasinya yang berubah tapi caraku menatap senja juga perlahan...


menyendu..

*

Thanks to reading and enjoying the story^^ 

Salam,
Tetes Kelabu

Komentar

Postingan Populer