Akhir dari beku

Sunyi menggulung. seakan memangkas waktu yang terasa di titik beku. Tapi tempat ini memang di gadang-gadang sebagai tempat malam. Matahari bahkan enggan untuk sekadar mempersembahkan cahayanya di sini.

Aku kembali menggosok kedua tanganku yang terbalut sarung tangan tebal. Sebenarnya ini adalah salah satu cara sia-sia untuk mendapat kehangatan.

Tapi...sudahlah. Toh aku tidak mempunyai kegiatan lain selain memandangi hamparan es yang menggunung disekelilingku.

Masih seperti itu posisiku dengan menyangga tangan di jendela sampai ketika suara ketukan terdengar asing di telinga.

Kapan terakhir kali ada suara yang muncul dari sana?

Langkah rikuh membawaku menuju lorong-lorong panjang melelahkan. Aku bahkan sempat berniat untuk kembali dan mengabaikan-entah siapa-sampai ketukan terdengar kembali.

Setibanya di depan pintu, aku membukanya dengan ragu. Kutatap mata biru cerah dibaliknya dengan pakaian santai musin panas. Bukan hanya itu, senyum hangat yang secerah mentari ikut tertarik di wajahnya. Membuatku sempat mengernyit dan mengarahkan pandang pada diriku sendiri.

Penutup kepala, jaket tebal, celana panjang, syal, kaus kaki tebal dan sepatu.

Ku alihkan kembali pada cuaca di luar sana, masih es dan dingin.

Ada apa dengan orang di depanku?

Kenapa dia masih terlihat baik-baik saja di tengah beku dengan potongan baju pantai itu?

Belum sempat menemukan jawaban dan menyuarakan tanya, tangannya terulur melewati ambang pintu, membuatku tersentak sebelum hampir tersekat oleh kata yang dia ucap.

"Keluarlah. Bagaimana kau tahu ini dingin atau tidak, jika kau masih mengurung diri di sini? Ayolah. Mari nikmati dunia."

*


Thanks to reading and enjoying the story^^ 

Salam,
Tetes Kelabu

Komentar

Postingan Populer