Pesan Terakhir dari Bunda (Part 1)


(Part 1) 

Hari ini awan mendung menggantung di kaki langit. Bunda pernah bilang bahwa mendung itu pertanda langit tengah mempersiapkan diri untuk menangis. Usia yang masih sepuluh tahun membuatku sempat tercengang sebelum bergegas melempar sepeda dan melompat ke teras, tempat Bunda tengah berdiri dengan raut wajah kesal karena aku tidak ingin mendengarkannya agar berdiam diri di rumah kendati hujan sepertinya akan segera turun. 

“Memangnya langit bisa menangis, Bunda?”

Sekilas Bunda tersenyum. Berhasil membujuk anaknya untuk tidak pergi ke taman komplek hanya untuk bermain sepeda. “Iya, Binar. Langit bisa menangis. Kemarilah biar Bunda ceritakan bagaimana kisahnya.”

Aku bergegas duduk khidmat di depan Bunda seakan menunggu pembagian amplop saat Lebaran tiba.

“Binar, tahu tidak kenapa langit menangis?”

Aku menggeleng pelan, tidak sabar pada apa yang akan Bunda ceritakan.

“Karena langit begitu mencintai Bumi.”

Aku masih ingat waktu itu aku hanya mengerut samar. Tidak ada satupun yang aku mengerti dari semua ucapan Bunda. 

“Binar, Bumi adalah satu-satunya hal yang sangat langit rindukan.”

Aku menatap Bunda lekat. “Apa hubungannya sama Binar yang gak boleh maen, Bunda?"

Bunda terkekeh samar. “Karena ketika langit tidak bisa lagi membendung rindunya pada Bumi, dia akan menurunkan hujan. Binar sebaiknya duduk manis di rumah sambil minum segelas coklat panas. Coba deh sesekali perhatiin rintik yang jatuh. Hujan adalah tanda sayang langit untuk Bumi.”

“Kayak sayang Bunda ke Binar?”

“Iya sayang.”

Sontak aku menggeleng cepat. “Tapi Binar gak mau Bunda jadi Langit dan Binar jadi Bumi.”

“Kenapa?”

“Karena...” aku memilin ujung baju Bunda. “Binar gak mau Bunda nangis karena rindu Binar. Biarin Binar yang nangis karena rindu Bunda. Pokoknya Bunda gak boleh nangis.”

Jawaban polosku waktu itu menyebabkan Bunda tersenyum lembut. Kami berdua kemudian menatap rinai yang mulai membasahi rumput dan tempias air yang menyapa teras. Tanpa aku tahu bahwa dalam kurun waktu beberapa tahun kedepannya, aku benar-benar menjadi sosok langit.
*

Hening.

Aku menggigit bibir bawahku dalam-dalam seraya merapal mantra dalam hati,

Semoga turun hujan. Semoga turun hujan.’

Belum juga setengah menit berlalu, kursi di kepala meja berdecit, pertanda sang kepala keluarga tengah duduk di sana. Aku semakin menunduk, meremas kedua tanganku dan seketika menyesal telah mau turun untuk ikut makan malam.

“Apa lagi?” suara tegas nan dingin menyapa telingaku. Aku memaksakan diri mengangkat wajah lalu mendapati Ayah yang tengah memelototi anak laki-laki pertamanya, Bang Bara.

“Bara? Ayah bicara padamu.”

“Biasa.” Abangku menjawab enteng, berbeda dengan wajah Ayah yang mulai memerah, menahan amarahnya.

“Ayah harus bilang berapa kali, Bara? Berhenti ikut-ikut tawuran! Ayah sudah lelah memindahkan kamu dari satu sekolah ke sekolah lain.”

“Yaudah gak usah sekolah.”

Iya. Abangku memang keras kepala. Sayangnya, sifat keras kepala itu, diturunkan dari Ayah.

Melihat Ayah mendorong kursi keras dan mulai berjalan ke arah Abang, aku mendesah pelan. 

Here we go again.

PRANG!

Sepiring nasi dengan kuah rawon sebagai pendampingnya, pecah berkeping-keping waktu Ayah secara tega melemparnya bahkan pembantu di rumahku berlari terpogoh-pogoh dari arah dapur sebelum mundur teratur melihat kekacauan yang terjadi. Tangan Ayah mengepal, memperlihatkan urat-urat lengannya yang menahan tinjuan.

“Kenapa? Berniat meninju wajah saya?” Abang bertanya sengak yang dibalas layangan tinju dari Ayah. Untungnya Kak Biru secepat kilat menahan kepalan tangan Ayah yang berniat menambah memar di wajah Abang.

“Yah, udah.” Kak Biru menatap tegas. Mata intimidasinya tidak pernah gagal menghipnotis orang lain untuk mengikuti perintahnya sekalipun pada Ayah.

“Anak tidak tahu di untung.” Ayah mengakhiri dengan sekalimat menyakitkan lalu pergi meninggalkan ruang makan. Tak lama suara mesin mobil yang menggas dalam sempat membuatku khawatir. Bagaimana jika Ayah kehilangan kontrolnya ketika sedang mengemudi dalam keadaan emosi begitu?

Sebenarnya sedari tadi peranku hanya menjadi penonton atau mungkin dari beberapa tahun yang lalu, peranku memang selalu begitu. Aku masih memegang sendok dan garpu di tangan ketika Bang Bara melirikku tajam.

“Semua gara-gara lo.”

Aku semakin terpaku di tempat. Iya. Ini salahku. Selalu salahku.
*

Sesuai harapanku sebelumnya, hujan turun malam ini. Aku mengulurkan lengan, melewati kanopi balkon hanya untuk merasakan air yang mengalir di tangan. Nyaman rasanya. Kendati apapun yang berhubungan dengan hujan akan selalu menjadi hal paling membahagiakan dalam hidupku. 

Langit tengah merindukan Bumi. 

Sedang asyik menatapi rintik yang menderas, pintu kamarku di ketuk pelan. Tak lama, Kak Biru berjalan masuk beserta nampan di tangan.

 “Kamu belum makan apapun.” Kak Biru menyimpan nampan di meja belajar lalu mendekat kearahku, “Ini bukan salah kamu.”

“Selalu jadi salahku, Kak.”

“Kamu tau jelas kenapa Bara bersikap kayak gitu ke kamu.”

Aku menghela napas panjang. “Abang benci sama Binar, Kak.”

“Dia benci sama diri dia sendiri.”

Kakak mengelus rambutku lembut sebelum menyampirkan sweaternya di bahuku. Kak Biru memang seperhatian itu.

“Coba kali-kali samperin dia. Jangan sama-sama keras gini. Dia sekarang juga di kamarnya pasti lagi semelankolis kamu.”

Kak Biru keluar dari kamar tanpa menutup pintu seakan Kakak memang menyuruhku memasuki pintu bercat hitam di seberang sana. Mungkin karena didukung oleh latar hujan, semenjak tiga tahun berlalu, baru kali ini aku memberanikan diri mengetuk pintu kamar Bang Bara. Tidak ada sahutan apapun dari dalam sana, membuat aku segera meraih gagang pintu dan mendorongnya. Melihat keadaan kamar Abang, aku mengernyit dalam.

Tiga tahun berlalu dan semuanya berubah. Bang Bara tumbuh menjadi sosok yang tak lagi aku kenali. Abang jadi sering ikut tawuran sampai-sampai harus pindah sekolah setidaknya setiap empat bulan sekali. Pernah juga selama satu tahun duduk anteng di sekolah sebelum Ayah mendapat kabar bahwa anaknya sering mabuk-mabukan di club malam. Bukan cuma dalam kehidupan di sekolah, Abang juga menjadi lebih dingin di rumah. Waktu aku dan Kak Biru turun untuk makan, Abang malah tidur pulas di kasurnya dengan banyak memar di sekujur tubuh. Bang Bara juga jadi tidak betah berada dalam satu ruang bersamaku lebih dari tiga menit. Tatapannya akan berubah dingin dan tajam ketika tidak sengaja kami bertemu pandang.

Aku adalah definisi paling sempurna dalam kamus benci Bang Bara. Padahal dulu, sebelum segalanya berubah menjadi hal yang lebih rumit, Bang Bara adalah sosok kakak idaman setiap adik perempuan. Bang Bara juga termasuk anak yang pintar bahkan piala-pialanya masih berjejer di gudang. Ya, Abang sendiri yang menyeretnya ke gudang dengan wajah sarat emosinya.

Sebenarnya tadi adalah makan malam pertama setelah tiga tahun berlalu. Kita berkumpul sebagai satu keluarga namun naas harus berakhir dengan piring pecah.

Tapi yang kini aku sadari, ternyata selama ini, Bang Bara tidak pernah merubah dirinya secara utuh. Kamarnya masih serapi dulu. Buku-buku berjejer di rak memenuhi satu bidang dinding kamar. Beberapa buku terbuka beserta pena yang berantakan ada di meja belajarnya, mengindikasikan bahwa Bang Bara memang masih serajin dan sepintar itu.

Aku melihat Abang yang duduk di kursi balkon, berniat memulai segalanya dari awal dan melenyapkan batas yang entah sejak kapan memagari kami. Belum sempat mendekat, Abang keburu menoleh ke belakang, menyebabkan aku kembali di hujam mata tajamnya.

“Pergi.” Ucapannya sedingin es tapi aku sedang tidak ingin pasrah. Rintik yang masih menyapa Bumi menjadi penguat bahwa aku harus bisa membuat Bang Bara setidaknya berhenti menganggapku asing.

“Bang—”

“Keluar.”

“Abang, Binar—”

“PERGI!”

Tubuhku tersentak sewaktu Bang Bara malah membentakku. Secara refleks, tanganku langsung gemetar. Aku tidak bisa. Hati ini sakit melihat Bang Bara yang mengabaikan hadirku sebegitunya. Aku langsung luruh ke lantai seraya menatap Abang dengan penuh luka.

“Apa sih bang sebernernya salah Binar?” aku menahan air mata mati-matian. Abang tidak menjawab membuat aku semakin ingin meledak.

“Kecelakaan itu bukan Binar yang mau, Bang. Itu bukan kuasa Binar. Binar gak tau salah Binar dimana. Tolong jelasin letak salah Binar biar Binar gak sebingung ini. Biar Binar bisa minta maaf tanpa bertanya-tanya karena hal apa.”

Aku menunduk dalam. Tanganku saling meremas. Tapi lagi-lagi Abang hanya menatapku tanpa mengeluarkan sepatah katapun membuatku buru-buru melanjutkan.

“Apa harus abang sampe memperlakukan Binar seakan Binar gak ada di dunia ini? Apa harus segitunya bang? Selama tiga tahun tiap kali Binar mau tidur pasti Binar mikirin sikap Abang ke Binar. Binar capek, Bang. Abang segitu gak pedulinya sama Binar."

Aku menghela napas sebelum meneruskan, "Apa Abang tau kalo selama ini bahkan sampe sekarang Binar harus rutin bolak-balik ke psikiater karena trauma kecelakaan? Apa abang peduli gimana Binar bakalan jerit-jerit ketakutan kalo naik mobil? Apa abang peduli kalo Binar pernah hampir mati—lompat dari mobil kalo bukan Kak Biru yang nyelametin Binar? Apa abang peduli gimana Biar tiap malem bakalan muter ulang kejadian kecelakaan yang masih Binar inget jelas sampai sekarang? Abang gak ada di sana. Abang gak ada di posisi berdarah-darah dan luka tapi mau gak mau harus...harus...”

Aku menjeda ucapan dengan memukul-mukul dada. Perih rasanya. Sesak. Sakit. Tapi agar Abang mengerti, aku harus melanjutkannya.

“Harus denger pesan terakhir dari Bunda."



Apa pesan terakhir dari Bunda?

Don't miss the second part!

Thanks to reading and enjoying the story^^ 

Salam,
Tetes Kelabu

Komentar

Postingan Populer