Pesan Terakhir dari Bunda (Part 2)
Pesan Terakhir dari Bunda
(Part 2)
Sudah.
Semua pertahananku habis tak bersisa. Tangisku tumpah ruah, menemani hujan yang menderas. Aku tak tahu reaksi Abang dan tak mau tahu. Sekarang aku sibuk mamblokir pikiran kejadian kecelakaan tiga tahun silam yang merenggut nyawa Bunda. Yang menyebabkan Abang berubah. Yang menyebabkan rumah bukan lagi tempat pulang yang hangat. Yang.. menyebabkan aku, Kak Biru, Ayah juga Bang Bara, perlahan saling menjauh dan asing.
Tak lama, aku merasakan pelukan yang membungkus hangat. Tanpa melihatpun, aku tahu Abanglah yang tengah mendekapku. Wanginya masih seharum dulu dan masih semenenangkan itu.
“Binar kangen sama Abang.” Aku berkata di sela-sela tangisku membuat pelukan Abang semakin mengerat.
“Abang minta maaf. Gak seharusnya Abang ngelampiasin rasa bersalah Abang sama kamu.”
Abang mengusap air mata di wajahku. Aku tersenyum tipis mendapati matanya kembali mencair. Abang sudah kembali pada dirinya.
“Seharusnya abang jagain kamu tapi Abng malah gini. Abang minta maaf, Binar.”
Aku mengangguk pelan.
“Biar Abang ceritain apa yang terjadi biar kamu enggak sebingung ini.” Abang menunduk menyebabkan aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya. “Waktu itu abang sama Biru masih kelas 2 SMP dan kamu kelas 6 SD. Sebelum Bunda jemput kamu ke sekolah, Abang sempet debat gara-gara Abang pengen ikut temen Abang naik gunung. Abang ngotot dan Bunda makin tegas ambil keputusan. Abang sampe harus teriak ke Bunda dan itu yang Abang sesali. Kalo Abang tahu di perjalanan pulang, kalian bakalan kecelakaan, Abang gak akan teriak. Bahkan Abang gak akan mau naik gunung.”
Abang mengangkat wajahnya perlahan membuat aku menelan ludah. Ternyata…Abang…menangis. Aku langsung memeluk Abang erat. Dapat ku dengar suara tangis lirih Abang di telingaku. Kini aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Penyesalan memang bisa membuat seseorang menyalahkan orang lain yang mana itu adalah salah satu cara untuk menyelamatkan diri sendiri dari keterpurukan.
“Kak Biru, masuk aja.” Aku memanggil Kakak yang sedari tadi mengintip di balik pintu. Kakak melangkah masuk sambil cengengesan. Mungkin malu karena aksinya kepergok.
“Akhirnya akur juga ini Upin Ipin.” Kak Biru mendekat lalu mengusap-usap rambutku lembut.
“Kalo lagi hujan gini Abang suka inget lagu yang Bunda nyanyiin.”
Tanpa aba-aba, aku, Kak Biru dan Bang Bara mulai menyanyikan lagu yang selalu kami dengar dari Bunda sewaktu hujan tiba.
Lihatlah awan menghitam
Pertanda sebentar lagi
akan turun hujan
Kemarilah duduk dan amati
Rindu langit tercurah
melalui tangisnya yang menyapa Bumi
Bunda…Binar, Kak Biru dan Bang Bara merindukan Bunda seperti Langit yang tengah menangisi Bumi malam ini.
*
Jam 04.50 dan pemakaman tampak lenggang. Kami bertiga menyusuri jalan kecil yang diapit oleh makam-makam lainnya di kiri kanan dengan hati-hati. Aku mendongak, mendapati langit berubah menghitam dan angin kencang menerbangkan anak-anak rambutku.
Sampai jarak lima meter, kami bertiga terpaku. Tepat di samping makam Bunda, Ayah tengah berjongkok seraya mencabuti rumput-rumput liar yang memenuhi makam. Aku tertegun sebelum kami memutuskan untuk tetap berdiri di sana, membiarkan Ayah mendapatkan waktunya sendiri.
“Halo Bulan. Tiga tahun kamu ninggalin anak-anak. Mereka baik. Tapi mereka gak bisa tumbuh sebagaimana waktu kamu yang ada di sisi mereka. Aku gak bisa mendidik mereka dengan kelembutan milik kamu atau dengan segudang filosofi milikmu yang selalu membuat mereka patuh.”
Ayah terdengar menghela napas, membuatku refleks memeluk lengan Kak Biru dan Bang Bara.
“Bara jadi liar. Kamu tau? Dia udah tiga kali pindah sekolah tahun ini. Hampir aja gak bisa sekolah lagi karena gak ada sekolah yang mau nerima anak yang bahkan udah di blacklist kepolisian.” Ayah terkekeh seakan baru saja berkelakar. Berbeda jauh dengan Ayah yang tak segan menampar pipi Abang di sel waktu Ayah ditelpon pihak kepolisian.
“Lain hal sama kakak kembarnya, Biru malah jadi pendiam akut. Dia masih sepintar dulu sampai-sampai aku bingung dimana lagi tempat menyimpan pialanya. Ruang tamu kita kayaknya terlalu kecil.” Ayah kembali terkekeh membuat Kak Biru mendengus geli sedangkan aku dan Bang Bara serentak tersenyum kecil.
“Kalo Binar,” Ayah menghela napas panjang dan dari sini aku bisa melihat punggungnya yang berubah lesu. Kesedihannya terpampang jelas. “Dia jadi punya trauma gara-gara kecelakaan itu, Bulan. Aku udah coba segala cara tapi katanya itu semua bergantung sama pikirannya sendiri dan aku rasa Binar gak pernah berniat menghapus memorinya tentang kamu termasuk kecelakaan itu. Maaf aku belum bisa jadi ayah yang baik buat mereka. Aku masih selalu kasar pada Bara dan mengacuhkan keberadaan Biru dan Binar.”
“Jujur, Bulan, aku bingung bersikap. Aku takut mereka gak bisa nerima aku sebagai orangtua tunggal mereka. Aku gak bisa jadi sosok yang selembut dan setegas kamu. Aku gak tau caranya aku bilang bahwa aku sayang sama mereka—”
Ayah semakin menunduk. Terlihat seperti menahan tangisnya dalam-dalam. Sedangkan aku sudah menangis dalam diam. Bang Bara sibuk mengusap air mataku dan Kak Biru menggenggam tanganku erat.
“Maaf Bulan, setelah tiga tahun, aku baru bisa datang menemuimu di sini. Aku menyibukkan diri pada pekerjaan dan berharap rasa sakit dari kehilangan kamu akan enyah sendirinya. Tapi aku salah. Semakin aku menjauh, aku akan semakin terluka. Ah sudah jam segini. Aku harus mengingatkan pembantu di rumah untuk memasak makanan. Dia selalu melupakan itu dan aku yang harus mengingatkannya setiap hari. Dasar Bu Marni.”
Ayah mengecek jam tangannya seraya berdehem singkat agar suara seraknya hilang dan segera berdiri sebelum menaruh sebuket bunga mawar di makam Bunda.
“Bara dan Biru tahun depan sudah lulus SMA. Sekarang mereka sedang pengayaan. Mereka membutuhkan banyak tenaga mengahapi Ujian Nasional. Binar juga harus banyak-banyak makan sayur karena selalu insomnia.”
Aku sepenuhnya terkejut begitupun Kak Biru dan Bang Bara. Ayah yang selama ini aku tahu tidak pernah mempedulikan keadaan rumah ternyata menjadi satu-satunya orang yang sibuk mengurusi kami bertiga. Ayah bahkan tau mengenai trauma dan insomniaku padahal selama ini aku tidak pernah menceritakan trauma dan insomnia yang aku alami.
Hal yang tidak aku sadari adalah Ayah sudah balik badan dan matanya melebar melihat kami yang berada tidak sampai lima meter dari tempatnya. Aku langsung berlari dan memeluk Ayah erat. Bang Bara dan Kak Biru mengikuti walau masih dalam postur tubuh kaku. Aku menangis sepuasnya di dada Ayah. Mencurahkan segala sesak dan sakit yang menghimpit dadaku. Elusan lembut Ayah di punggungku seakan mmengangkat beban tak kasat mata yang menekan bahuku kuat selama ini.
Angin semakin kencang menitup pepohonan menyebabkan suara daun terdengar berisik di tengah pemakaman yang sunyi ini. Tak berapa lama, hujan turun seakan Bunda ingin ikut bercerita pada tiap tetesnya yang menyentuh semesta.
Langit tengah merindukan
Bumi.
Masih dengan air mata yang mengalir dan suara sesegukan, aku menatap Ayah dengan seluruh sayang yang membucah, “Binar, Kak Biru sama Bang Bara sayang sama Ayah.”
Ayah tersenyum lembut. Beliau mengusap lembut rambutku, Kak Biru dan Bang Bara bergantian sebelum kembali merengkuh kami dalam dekap hangat ditemani rintik yang kemudian menderas.
“Ayah juga sayang kalian.”
Tiba-tiba pesan terakhir dari Bunda terputar di relung memoriku,
“Binar, nanti kalau Bunda gak ada, kamu satu-satunya yang harus bisa melimpahkan kasih sayang. Kamu satu-satunya yang harus bisa bikin Kak Biru, Bang Bara sama Ayah bisa rukun di meja makan. Janji sama Bunda?”
Binar janji Bunda. Binar
janji.
Aku tersenyum menatap
langit yang tengah menangis juga tetes air yang membasahi wajahku.
Ternyata, Bunda berpesan
untuk ini.
Lihatlah awan menghitam
Pertanda sebentar lagi
akan turun hujan
Kemarilah duduk dan amati
Rindu langit tercurah
melalui tangisnya yang menyapa Bumi
*
Thanks to reading and enjoying the story^^
Salam,
Tetes Kelabu
Komentar
Posting Komentar