Akhir dari beku
Sunyi menggulung. seakan memangkas waktu yang terasa di titik beku. Tapi tempat ini memang di gadang-gadang sebagai tempat malam. Matahari bahkan enggan untuk sekadar mempersembahkan cahayanya di sini. Aku kembali menggosok kedua tanganku yang terbalut sarung tangan tebal. Sebenarnya ini adalah salah satu cara sia-sia untuk mendapat kehangatan. Tapi...sudahlah. Toh aku tidak mempunyai kegiatan lain selain memandangi hamparan es yang menggunung disekelilingku. Masih seperti itu posisiku dengan menyangga tangan di jendela sampai ketika suara ketukan terdengar asing di telinga . Kapan terakhir kali ada suara yang muncul dari sana? Langkah rikuh membawaku menuju lorong-lorong panjang melelahkan. A ku bahkan sempat berniat untuk kembali dan mengabaikan-entah siapa-sampai ketukan terdengar kembali . Setibanya di depan pintu, aku membukanya dengan ragu. Kutatap mata biru cerah dibaliknya dengan pakaian santai musin panas. Bukan hanya itu, senyum hangat yang secerah mentari ikut tertarik di wa...